April 2008
Siang itu aku duduk terpekur, memandang langit yang mulai bersinar biru, matahari yang memancarkan panas membara, mendengarkan celoteh anak-anak dikampungku, membuatku tersenyum. “Fath, tidakkah kau ingin semua kembali seperti dulu?” tiba-tiba hatiku bertanya,dengan satu hentakan kuat aku terhenyak. “Allah…itukah suara yang selama ini mengangguku?” kata hatiku yang lain.
Sedetik itupun anganku melampaui batasnya, terbang mencari memori-memori yang terserak beberapa bulan ini, kenangan akan keharmonsan yang terkoyak, suasana yang tak lagi jernih, penuh tanya, penuh curiga, penuh kegamangan dihati penghuninya. terutama aku.
Pagi itu, Mamakku bercerita tentang gundahnya, dengan susah payah, dengan air mata yang berkaca-kaca, dengan tutur yang hati-hati karna itu menyangkut kami, menyangkut hati kami yang pastinya nanti ikut terkoyak, tercabik walau aku yakin tak seperti hati mamak. tapi mamak adalah seorang manusia yang tegar, panutan jiwaku akan sebuah kesabaran dan kebijaksanaan.
“Fath, rindukah kau dengan kebahagiaan itu, walau semu?” tiba-tiba hatiku bertanya lagi. “Ya, aku rindu walau semua itu semu, walau semua itu fatamorgana!” hatiku yang lain menyaut lancang.
Aku kembali terpekur, anak-anak itu masih riang berceloteh, tertawa lepas. “Oh indahnya, saat aku, dan saudaraku masih kecil, masih terbuai dalam kebahagiaan mamak dan bapak” hatiku berkata lirih. aku dulu sempat mengecapnya, seperti mereka, tanpa beban. kenapakah waktu merebut semua itu, siapakah yang harus ku persalahkan? Mamakkah? Bapakkah? atau Dia? atau Suasana? atau bahkan aku? saudaraku? ah….hatiku bingung.
sulitkah aku mengharap semua itu kembali seperti semula? hidup dengan kepercayaan, dengan senyuman tulus, dengan gelak canda yang tak habis, atau Allah sedang menguji kesabaran kami? atau malah murka pada kami?
tak terasa matahari mulai redup, langitpun mengelantungkan mendung, setitik hujan turun. anak-anak sudah mulai berlari kerumah masing-masing, Ah ternyata hujan turun. “Fath angkat jemuranmu cepat!” mamak berteriak dari teras depan “Iya Mak” aku berlari, dan menharap semua gundah yang saat itu kurasakan ikut lari dan hilang bersama hujan yang turun dengan derasnya.






