Mei 2008


Kenapa tiba-tiba hatiku diliputi keraguan

Akan hal yang slama ini tlah ku yakini…

Kenapa kegelisahan itu muncul saat aku ingin hanya dia yang ada disampingku…

Wajarkah jika aku merasakan ketakutan???

Tentang rasa yang tlah terlukis selama ini??

Benarkah aku dan dia adalah SEJIWA…???

Kenapa pertanyaan itu saat ini begitu sering mengusikku…?

Mengapa pertanyaan itu begitu mengikatku…ku tak bisa memilahnya…

Jika semua ini, yang slama ini terajut adalah suatu kesalahan berilah PETUNJUKMU…

Hilangkanlah keraguan yang ada…

Biarkan keyakinan itu ada seperti dulu jika aku dan dia adalah SEJIWA…

Saat kerinduan membuncah, hati ini selalu mengatakan

“Biarkan dia menyeruak direlung-relung jiwamu, dilabirin jantungmu, mengetuk lembut hatimu”

Saat kerinduan telah menyeruak direlung-relung jiwamu, dilabirin janutngmu, mengetuk lembut hatimu, NIKMATILAH….

Rasakan kelembutannya, kesyahduannya, keheningannya, keindahannya…

Biarkan jiwamu menari mengikuti ritmenya…

menarilah…bebaskan hatimu yang terisi kerinduan…

Bebaskan jiwamu yang menggelepar oleh kerinduan…

Bebaskan pikiranmu yang terisi penuh dengan gambar wajahnya yang terindukan…

bebaskan….semuanya.

Ternyata sabar itu benar-benar INDAH…

Kesabaran yang terasa saat menunggumu..

Kesabaran saat merindukanmu…

Kesabaran saat mencoba tidak menodai cinta ketika waktu belum mengatakan YA…

Sabar yang slama ini diajarkan Tuhan

Lewat ujian-ujian yang kadang aku pun tak menyadari akan hikmah yang ada…

Sabar itu kini yang begitu memberiku kepasrahan

Dan kenikmatan yang dalam…

Sabar itu yang telah menemukanku pada kekasih sejati, ya….kekasih sejatiku….

Aku mengagumi jiwanya karna kekhusyukannya demi menuju ketercerahan…

jiwaku menyukainya tanpa satu syarat dan penyebab..

aku mencintainya..ya aku mencintainya…

tanpa tahu sebab dan mengapa aku mencintainya…

ku coba merangkai kata-kata nan indah..

tapi adakah kata-kata yang lebih indah dari degup jantungku dan degup jantungmu

yang bersimfoni mendendangkan lagu…

lagu merdu nan syahdu…

tuk menemani tidurmu, menyatu dalam mimpimu…

Semalaman aku menahan sakit, tapi hati ini sudah tenang “Nak jam 9 pagi nanti ibu sudah bisa melihat kamu”. batinku dalam hati.

tapi memang kita hanya merencanakan dan Allah adalah pemilik semua skenario di dunia ini, pengubah jalan yang tidak dapat ditawar lagi, pengatur jalan hidup yang aneh, menyakitkan tapi begitu indah.

jam 09.00 minggu tanggal 11, aku menanti kelahirannya, setelah semalaman berjuang, tapi “Bu pembukaan 7, tapi kok belum pecah ketubannya, bagaimana kalau dioperasi saja?” kata salah satu bidan. “Ndak bu, saya belum berjuang” kataku penuh keyakinan, dihatiku juga mengatakan, mungkin sedikit takabur (Astaghfirullah) “kehamilanku ndak ada halangan yang berarti, posisi juga baik, ah aku yakin lahir normal”.

perut ini semaikn sakit saja, ketuban belum juga pecah, aku masih sabar menunggu meski jam 9 sudah lewat dan hampir malam menjelang, semua khawatir, ibu, bu lek, ayah, nenek (selalu menangis), suami, mertua yang waktu itu datang menjengukku, semuanya khawatir, sangat khawatir, dan aku berusaha tetap sabar, dzikir tak lepas dari ucapan mulutku, hatiku berdzikir, berdialog dengan malaikat kecilku.

Bulan sudah emngintip dari peraduannya, aku masih tetap sama dengan segala keadaanku, dengan semua kesakitan dan dzikirku, dan semua orang dengan semua kekhawatirannya. dan suamiku juga ibuku dengan kesabarannya menungguku penuh CINTA.

Pagi menjelang, 2 bidan sekaligus melihat keadaanku, “Ndak mau operasi bu?” , “tidak bu, normal saja”. ” Ya udah kalo gitu saya kasih obat ngeh”.

tiba-tiba semua sibuk, infus disiapkan, ditangan kiriku, obat pendorong 2 x disuntikkan, kateter dipasang karna aku sudah tidak bisa ke kamar mandi lagi, semua menunggu, 1 jam, 2 jam berlalu mereka datang lagi, “loh ketubannya belum pecah padahal sudah 9 pembukaannya” semua sibuk lagi, ketubanku digunting, dan pecahlah sudah, sakitku bertambah, pembukaan 10 tapi malaikat kecilku masih suka meringkuk di rahimku, selimut hangatnya, tiba-tiba “Loh bu kok ketubannya hijau?” Allah kekhawatiran langsung menyergapku, padahal kepala malaikat kecilku sudah ada diujung lubang peranakanku. semua sibuk lagi “Jantungnya masih bagus, masih sehat” Alahamdulillah ucapku dalam hati.

sampai dhuhur datang malaikat kecilku masih tidak mau melihat dunianya, duniaku. “Bu, daripada kasian bayinya, dan ibu sudah ellah gimana kalau operasi saja?”

Allah, aku sudah berusaha sekuat tenaga, sudah berjuang dengan mautku, sudah ihktiar untuk bisa jadi the real mom, tapi Engkau mengatakan lain, maka Ridhoilah aku Rabb, “Ya, dioperasi saja”.

Ibu menangis, bu lek juga, suamiku berusaha tabah walau aku tau raut muka itu sangat sedih dan khawatir, ayah mengatakan padaku “ndak papa ya nduk, sambil menciumiku” aku sendiri berusaha tawakkal, pasrah kepada Allah, Wa ufawwidu Ilallah….

jam 1, aku masuk ruang operasi, Porong macet total, “Tolong jemput saya pakai sepeda motor, saya sudah ada di depan Puskesmas Porong, macet” kata dokterku. Allah padahal aku diruang itu sendirian, dan menahan sakit.

Setelah dokter Masnunah datang aku pun langsung di anastesi, aduh sakit sekali, bayangkan saja dengan perut yang besar, ketuban yang sudha pecah, perut menahan sakit karena bayi mau keluat (Uwat-dalam bahasa jawa), aku diperintah untuk mundur dalam posisi tidur miring, dengan tempat kecil sekali pas badan, kedua kakiku ditekuk ke perut, tangan dan punggungku juga menyentuh pahaku, seperti bayi yang sedang meringkuk dalam rahim. setelah itu aku sudah tidak emrasakan apa-apa dan setelah aku berdoa, operasipun dimulai.

nafasku aku atur, meditasi, tiba-tiba aku tertidur, nyaman. bangun-bangun aku sudah mendengar tangis bayiku, Alhamdulillah, “Lengkap Bu?” “Ya, lengkap dan laki-laki” Allahu Akbar….

Akhirnya dia melihat duniaku juga, sekarang 13 hari sudah berlalu lihatlah, dia sudah bisa tersenyum kepadaku, sakit yang waktu itu kuderita hilang dengan senyuman dan tangisnya. lihatlah dia seperti doaku, “Wajah ayahnya ada disitu” ah malaikat kecilku, bergelutku dengan maut pun akan kujalani demi melihatmu. melihatmu tersenyum, menangis dan merengek manja kepadaku.

sekarang aku menjadi ibu yang sudah merasakan 2 kali bergelut dengan maut, 2 kali sakit dan selaksa kebahagiaan yang terpendar dari wajah-wajah suamiku, orang tuaku, saudara-saudaraku dan senyuman dari Tuhanku, Allah terima kasih atas Rahmat-Mu…jadikalah anakku, malaikat kecilku ini manusia ikhsan dan bermanfaat bagi umat.

dan malaikat kecilku itu aku beri nama “SYAUQI AHMAD BIMANDRIA” terserah orang memangggil apa tapi bagiku dia adalah malaikat kecilku, dan selamanya dia akan begitu. I LOVE U, BIMA

Sabtu, 10 Mei 2008

Sore yang indah, aku masih bekerja dengan komputer bututku, browsing di internet tentang TIK dan mencari coloring book untuk ponakan-ponakanku yang setiap sabtu selalu belajar dirumah ini.

tidak terasa malam kian beranjak, disamping rumahku begitu rame, ternyata ada tetanggaku yang sedang punya hajat, Sunatan dan ada orkesnya, wah bisa ditebak pasti banyak sekali orang yang akan lalu lalang di depan rumahku untuk menontonnya, pasti macet.

18.00 perutku tiba-tiba mules, sakit, tapi masih bisa kutahan…”Mas perutku sakit” kataku pada suami tersayang. “Perlu ke RS” katanya menyimpan khawatir, “Nggak dulu ah, biar aja aku masih bisa tahan” kujawab dengan meringis menahan sakit.

bulan sudah mengantung dilangit, suara bertabuhan dan seruling sudah terdengar, rame banget…ibuku sedang bercanda dengan adik kecilku, ayahku seperti biasa sudah ada dikamarnya, tiduran capai kerja seharian. aku dan suamiku menonton acara kesukaan di TV, perutku bertambah sakit, lalu aku kekamar mandi, eh…tiba-tiba aku nggak bisa jalan “Kenapa Ind?” Tanya ibu khawatir “Ndak papa Bu, sakit dikit” jawabku.

Hati kecilku lalu berkata “Apakah sudah waktunya? perkiraan terakhir tanggal 20 Mei sedangkan sekarang tanggal 10 Mei, wah baby ku ingin lahir waktu aku merayakan ULTAH pernikahan mungkin (Menikah tanggal 11,12,13 Mei 2007).

Malam kian larut saja, aku mencoba berbaring dikamarku, suamiku dengan setia memijit kaki dan punggungku, aku jadi sedikit damai dan sakit yang kurasakan sedikti lebih ringan.

24.00 Ayah bangun dan melihat aku kesakitan “Ayo ke RS sekarang”, “Ndak Yah, aku masih tahan” jawabku. kemudian ibu mulai menyiapkan segalanya, tas untuk dede’, untuk aku, rumput fatimah, buatin aku teh, sedangkan aku masih kesakitan dan suamiku pun masih dengan setia dengan “Kusukannya”.

03.00 dinihari hari minggu, aku kekamar mandi, tiba-tiba kaluar darah dari Lubang peranakanku, “Bu keluar darahnya, ayo ke RS” kataku pelan. Ayah bangun dan menyiapkan kendaraan. maka berangkatlah aku pada waktu semua orang sedang bertahajjud ke RS Pusdik Porong.

“Bu sudah pembukaan 3″ kata seorang suster, mungkin minggu pagi jam 09.00 adiknya sudah lahir.”Alhamdulillah” aku dan ibu juga suamiku lirih berkata. sakit terus semakin sering kurasakan, aku cuma bisa berdzikir “Allah, Tiada kekuatan selain yang engkau berikan, lancarkanlah jalanku, Allah, berilah kekuatan dan kemudahan”.

semakin dekat aku dengan masa melahirkan, 20 mei 2008, semakin hati ini berdebar-debar. malam-malam serasa semakin panjang saja, tidur malam yang dulu adalah aktifitas mengistirahatkan jiwa dan raga, sekarang menjadi medan perang yang mengelisahkan…perasaan, pikiran dan kenyamanan sudah terkontaminasi, ketakutan, kegelisahan, kebahagiaan menjadi satu…tiap malam setiap hari dalam 2 bulan ini.

Semakin besar perut ini, semakin besar janin yang aku kandung, semakin bahagia mendekati kelahiran. segala tetek bengek bayi telah disipakan, baju-baju kecil, handuk kecil, kaos kaki, sarung tangan, diapers, popok ah…lucu-lucu. seakan-akan aku bermimpi, aku akan punya BABY…? betulkah??!

semakin mendekati persalinan aku semakin bertanya pada diri sendiri, siapkah aku…? pertama siapkah aku menghadapai persalinan nanti, kata orang “Melahirkan itu SAKIT” aduh…hatiku kebat-kebit, “TARUHAN NYAWA” aduh sudah cukupkah tabungan ku untuk menghadap-Nya, Allah….ketakutan merajai kalbu. suamiku berkata “Serahkan Pada Allah” ibunda berkata “InsyaAllah Lancar, berdoa terus, ibu mendoakan”, Murid tercinta juga berdoa “Bunda Semoga dedek dan Bunda sehat ya dan lancar waktu melahirkan” Teman-teman mengatakan “Nggak usah ditakuti Bu, sudah kodrat kita, semoga selamat bayi dan ibunya”

AMIIIIN.

semakin dekat hari persalinan aku selalu bertanya pada belahan jiwaku “Ridhoilah aku ya mas, Relakan aku, Doakan aku” air matapun tak kuasa lagi ku bendung, dengan senyum manis dan raut muka yang sulit ku tebak dia selalu mengangguk, memelukku dengan mesra…damai.

semakin dekat hari persalinan aku semakin sering bertanya pada TUHAN, “Seperti apakah anakku nanti? Selamatkah aku dan dia? Jadikan dia sempurna dimata-Mu ya Rabb” ah aku tinggal berdoa saja…

Allah, apapun nantti yang terjadi, aku hanya berdoa itu semua adalah skenario-Mu yang paling indah, berilah kesabaran pada aku, suamiku, orang tuaku dan semua orang yang aku cintai…itu saja doaku, sebelum aku berjuang melawan maut, berjuang demi malaikat kecilku nanti.

WISH ME LUCK!!!Doain aku Saudaraku…