
Semalaman aku menahan sakit, tapi hati ini sudah tenang “Nak jam 9 pagi nanti ibu sudah bisa melihat kamu”. batinku dalam hati.
tapi memang kita hanya merencanakan dan Allah adalah pemilik semua skenario di dunia ini, pengubah jalan yang tidak dapat ditawar lagi, pengatur jalan hidup yang aneh, menyakitkan tapi begitu indah.
jam 09.00 minggu tanggal 11, aku menanti kelahirannya, setelah semalaman berjuang, tapi “Bu pembukaan 7, tapi kok belum pecah ketubannya, bagaimana kalau dioperasi saja?” kata salah satu bidan. “Ndak bu, saya belum berjuang” kataku penuh keyakinan, dihatiku juga mengatakan, mungkin sedikit takabur (Astaghfirullah) “kehamilanku ndak ada halangan yang berarti, posisi juga baik, ah aku yakin lahir normal”.
perut ini semaikn sakit saja, ketuban belum juga pecah, aku masih sabar menunggu meski jam 9 sudah lewat dan hampir malam menjelang, semua khawatir, ibu, bu lek, ayah, nenek (selalu menangis), suami, mertua yang waktu itu datang menjengukku, semuanya khawatir, sangat khawatir, dan aku berusaha tetap sabar, dzikir tak lepas dari ucapan mulutku, hatiku berdzikir, berdialog dengan malaikat kecilku.
Bulan sudah emngintip dari peraduannya, aku masih tetap sama dengan segala keadaanku, dengan semua kesakitan dan dzikirku, dan semua orang dengan semua kekhawatirannya. dan suamiku juga ibuku dengan kesabarannya menungguku penuh CINTA.
Pagi menjelang, 2 bidan sekaligus melihat keadaanku, “Ndak mau operasi bu?” , “tidak bu, normal saja”. ” Ya udah kalo gitu saya kasih obat ngeh”.
tiba-tiba semua sibuk, infus disiapkan, ditangan kiriku, obat pendorong 2 x disuntikkan, kateter dipasang karna aku sudah tidak bisa ke kamar mandi lagi, semua menunggu, 1 jam, 2 jam berlalu mereka datang lagi, “loh ketubannya belum pecah padahal sudah 9 pembukaannya” semua sibuk lagi, ketubanku digunting, dan pecahlah sudah, sakitku bertambah, pembukaan 10 tapi malaikat kecilku masih suka meringkuk di rahimku, selimut hangatnya, tiba-tiba “Loh bu kok ketubannya hijau?” Allah kekhawatiran langsung menyergapku, padahal kepala malaikat kecilku sudah ada diujung lubang peranakanku. semua sibuk lagi “Jantungnya masih bagus, masih sehat” Alahamdulillah ucapku dalam hati.
sampai dhuhur datang malaikat kecilku masih tidak mau melihat dunianya, duniaku. “Bu, daripada kasian bayinya, dan ibu sudah ellah gimana kalau operasi saja?”
Allah, aku sudah berusaha sekuat tenaga, sudah berjuang dengan mautku, sudah ihktiar untuk bisa jadi the real mom, tapi Engkau mengatakan lain, maka Ridhoilah aku Rabb, “Ya, dioperasi saja”.
Ibu menangis, bu lek juga, suamiku berusaha tabah walau aku tau raut muka itu sangat sedih dan khawatir, ayah mengatakan padaku “ndak papa ya nduk, sambil menciumiku” aku sendiri berusaha tawakkal, pasrah kepada Allah, Wa ufawwidu Ilallah….
jam 1, aku masuk ruang operasi, Porong macet total, “Tolong jemput saya pakai sepeda motor, saya sudah ada di depan Puskesmas Porong, macet” kata dokterku. Allah padahal aku diruang itu sendirian, dan menahan sakit.
Setelah dokter Masnunah datang aku pun langsung di anastesi, aduh sakit sekali, bayangkan saja dengan perut yang besar, ketuban yang sudha pecah, perut menahan sakit karena bayi mau keluat (Uwat-dalam bahasa jawa), aku diperintah untuk mundur dalam posisi tidur miring, dengan tempat kecil sekali pas badan, kedua kakiku ditekuk ke perut, tangan dan punggungku juga menyentuh pahaku, seperti bayi yang sedang meringkuk dalam rahim. setelah itu aku sudah tidak emrasakan apa-apa dan setelah aku berdoa, operasipun dimulai.
nafasku aku atur, meditasi, tiba-tiba aku tertidur, nyaman. bangun-bangun aku sudah mendengar tangis bayiku, Alhamdulillah, “Lengkap Bu?” “Ya, lengkap dan laki-laki” Allahu Akbar….
Akhirnya dia melihat duniaku juga, sekarang 13 hari sudah berlalu lihatlah, dia sudah bisa tersenyum kepadaku, sakit yang waktu itu kuderita hilang dengan senyuman dan tangisnya. lihatlah dia seperti doaku, “Wajah ayahnya ada disitu” ah malaikat kecilku, bergelutku dengan maut pun akan kujalani demi melihatmu. melihatmu tersenyum, menangis dan merengek manja kepadaku.
sekarang aku menjadi ibu yang sudah merasakan 2 kali bergelut dengan maut, 2 kali sakit dan selaksa kebahagiaan yang terpendar dari wajah-wajah suamiku, orang tuaku, saudara-saudaraku dan senyuman dari Tuhanku, Allah terima kasih atas Rahmat-Mu…jadikalah anakku, malaikat kecilku ini manusia ikhsan dan bermanfaat bagi umat.
dan malaikat kecilku itu aku beri nama “SYAUQI AHMAD BIMANDRIA” terserah orang memangggil apa tapi bagiku dia adalah malaikat kecilku, dan selamanya dia akan begitu. I LOVE U, BIMA