Juli 2008


Semburat merah wajahnya

senyum tersungging manis, merekah dari bibir mungilnya

Matanya menyiratkan keindahan kasihnya untuk ku

Alisnya bertaut jenaka ketika ku balas tatapan mesranya

kini, bibir mungilnya mengerucut

ketika aku mengajaknya bicara, mengajaknya bercanda

lihatlah dia menjulurkan lidahnya, tanda bahagia

lihatlah binar di bola matanya yang hitam

lihatlah dibibirnya yang ditarik lepas

lihatlah tangan mungilnya yang mengapai-gapai

kakinya yang menghentak-hentak

lihatlah dia, yang seakan ingin berkata

“I Love You, Mom” dengan Mesra….

“Adi itu anaknya nakal sekali” kata seorang guru di depan saya suatu hari
hari yang lain guru yang lain yang sedang ngobrol dengan teman sejawat bilang “sampeyan ngajar anak kelas H? waduh siap-siap pusing anake udah bodoh-bodoh, nakal lagi”
“Aduh Anak ini kok nakal banget ya” batin saya

Pantaskah hal diatas dipikirkan, dibatin bahkan diucapkan seorang guru atau pendidik pada siswa atau sekedar untuk obrolan dengan teman sejawat?
saya pernah ngobrol dengan adik ipar saya yang mengajar di sekolah swasta, obrolan santai sambil tiduran tetapi mengena dihati dan yang dibicarakan itu loh bagus untuk refleksi diri dalam mengajar.

sekarang ini memang marak sekali (atau mungkin dilingkungan saya) tenaga pendidik yang kesannya tidak mau tantangan, pengennya enak, murid harus sudah pinter semua jadi tidak susah-susah ngajar. lalu yang belum pinter ikut siapa?

“kalau sampeyan ngajar Sekolah negeri Insyaallah enak mbak, kan anake lumayan-lumayan, jarang yang nakal lagi. tapi kalau di Swasta waduh sampeyan ruwet dan soroh banget”

“Ya sama saja”

“Eh tau nggak ada seorang ustadz yang ngajar di sekolah saya, beliau itu kalo ngajar tidak pernah bentak anak-anak, ngelaruhi juga nggak pernah, pokoknya dia itu transfer ilmu aja”

“loh kalo anake nakal-nakal piya”

“ya diem aja, beliau berpendapat gini , Ilmu itu memang ditransfer oleh manusia, tetapi yang berhak memberikan kefahaman atau hidayah atau wahyu itu adalah Allah, jadi kita tidak bisa begitu saja menghakimi seorang murid karena dia nggak bisa, belum tentu loh, karena Allah yang menentukan, yang penting kita ikhlas insyaAllah anak didik kita akan jadi orang yang manfaat, akan mendapat ilmu manfaat, gitu mbak”

“Allah…mungkin betul juga, tetapi bukan berarti kita tidak mengingatkan anak didik, tapi kita harus menjaga hati kita untuk selalu berprasangka baik pada anak didik, terutama ikhlas, dalam segala hal mungkin ya”

dan jika kita runut selama ini, para kyai dan santrinya yang sudha banyak bermanfaat itu juga buah dari keikhlasan guru dan murid. guru ikhlas dengan keadaan murid nerima apa adanya dan dibangun tanpa mencela dan berfikir negatif dan murid juga ikhlas menerima ilmu juga segala nasehat dari guru.

Mungkin hal sederhana tapi sulit ini yang menjadikan anak jaman sekarang menjadi orang yang tidak bermanfaat bagi umat, mereka pinter, tapi keblinger dan bermanfaat bagi dirinya sendiri (korupsi) dan dengan segala keedanan mereka.

alhasil, Guru dituntut lebih ikhlas, lebih menjaga lisan dan hati untuk menjadi lebih baik, lebih positif thinking. karena dengan persangkaan kita yang baik insya Allah akan menjadi baik pula realita pada anak didik kita.

Amiin

Tatkala temaram datang mewarnai langit

Jiwa yang sudah gundah pun kian tercabik

Seakan ikut merasakan dunia yang akan terasa sunyi dan dingin

Andaikan jiwa yang ini tak terlukai sejak dulu

Mungkin walau dunia sesunyi apapun tak akan bergeming

jika saja jiwa ini selalu merindukan Dia mungkin masih ada asa tersisa

Pasti tak akan lagi sisi temaram di jiwa apalagi mendung yang mengelayut manja

Harusnya jiwa ini selalu menghadap-Nya

Seharusnya….ya seharusnya

Imunisasi memang penting, dan itu saya buktikan dengan keikutsertaan saya dan anak untuk pergi ke Posyandu terdekat untuk mendapatkan imunisasi.

Memang waktu Bim akan meninggalkan RS waktu itu sudah ada imunisasi yang pertama, yaitu Booster dan Polio, dan lainnya menyusul kat perawatnya. bisa dilakukan di RS, Puskesmas, Bidan atau ke Posyandu.

tanggal 5 Juli 2008 kemarin adalah posyandu pertama saya dan Bim, sebelumnya sih saya sempet takut, hati ini was-was juga karena waktu dulu lihat anak orang di imunisasi aja nggak tega apalagi anak sendiri. juga takut Bim nanti menangis (kalo menangis Keras banget dan lama),  jadilah ibu saya (Eyang Putri Bim saya comot) “Ayo sama ibu juga ya…nanti yang ngendong Bim waktu di suntik” hehe. juga untuk “ngeneng-ngeneng” Bim kalo menangis (Bim seneng sama Eyang nya dari pada saya, ibunya)

setibanya disana, Bim di timbang berat badannya, “5 kg Bu” Alhamd gede juga Bim, nggak BLBR lah..hehe setelah itu tibalah untuk imunisasi dan yang disuntik kebetulan adalah bagian tangan yang atas, wah kasian deh rasanya…”Bu aja ya yang ngendong Bim” kataku memelas, “Loh ya kamu to, biar berani, kalo nggak berani juga ya nggak usah dilihat” saut ibu, waduh ibu ini gimana tadi katanya iya-iya tapi sekarang saya yang mangku aduh jadi takut.

saya sudah membayangkan Bim akan meronta (karena dia aktif banget) kemudian setelah disuntik akan menangis keras banget sampai saya nggak bisa ngendalikan dia. tapi Alhamd Anakku emang pintar (boleh dong) waktu si perawat menyuntikkan jarum suntiknya si Bim cuma merintih pelan lalu menangis yang juga tidak kalah pelannya, kemudian itu diam, menyusu dan tertidur…Hah, that’s it? bathin saya…Nggak seru!!!

trus saya ajak dia ngobrol (walau sedang tidur, kebiasaan sih) “Aduh Bim nangisnya kok kerasan kalo lagi ngambek sama ibu, lagi minta susu, emang sakit mana sama jarum suntik” hehehe kata saya sambil tersenyum dan berkata Alhamd anakku pinter banget.

Spiral??? mungkin anda semua kaget pengalaman  apa yang kali ini saya  bagi dengan anda, kok membahasa Spiral ?? Spiral yang bagaimana???

kalau anda adalah seorang wanita dewasa atau seorang ibu pasti anda mengerti apa yang akan saya bicarakan, ya..ini terkait program pemerintah bertahun-tahun lalu yang sekarang ini sukses besar…KB. yap anda betul yang saya maksud adalah KB SPIRAL. IUD.

dan beginilah kisah saya dengan si IUD itu…

8 juli 2008, 18.30

dengan berat hati saya dan suami pergi ke dokter langganan saya (dr. Masnunah, S.Pog) meninggalkan anak saya dalam asuhan Eyang Putrinya, bukannya gimana-gimana, waktu itu lampu padam dan dikamar si kecil diterangi lampu minyak yang baunya membuat saya khawatir mengakibatkan sesak nafas (si kecil gampang sekali terganggu pernafasannya).

sesampainya disana, tempat praktek dr. Nun masih sepi, jadi saya dan suami santai saja menunggu kedatangan beliau. biasanya kalau tidak ada operasi mendadak atau tidak macet (Porong adalah wilayah yang super macet, meski belum ada LAPINDO) beliau datang jam 19.00 tapi jika ada operasi bisa-bisa jam 20.30 baru nyampe ruang praktek. dan sialnya waktu itu dr. Nun sedang melakukan operasi di RS lain dan Porong macet pula. jadinya saya dan suami terkantuk-kantuk. padahal saya dapat nomor 6. wah bisa jadi nanti pulang jam 23.00 nich batin saya.

singkat cerita, beliau datang, dan saya pun dipanggil, diruang praktek seperti biasa dr. Nun menanyaan keadaan saya dan anak, kemudian saya disuruh siap di ruang USG, beliau ingin melihat apakah rahim saya bersih atau sudah ada bibit janin lagi…hahaha..”masih 2 bulan dok” komentar saya sambil tersenyum malu.

setelah dinyatakan bagus dan siap di “pasang” saya dipersilahkan ke ruang yang lain, untuk dipersiapkan dan tentu saja mempersiapkan diri (menghimpun keberanian, kata Ibu saya sih tidak sakit, tapi saya kan baru pertama ini…hehe penakut sih).

setelah seperempat jam, dr. Nun sudah siap dengan saya, peralatan yang sudah disiapkan terus terang membuat saya keder, Alhamdulillah beliau tidak lupa membaca Basmalah untuk memulai pemasangan, dan saya pun juga mengimbangi dengan doa.

disini petualangan dimulai, setelah seperempat jam belum juga bisa didipasang, dr. Nun bilang “Mulut Rahim Jenengan ini ketarik keatas Bu, Sakit ya” saya hanya menjawab dengan erangan dan terus berdoa, dalam hati saya sudah kebat-kebit “Ya Allah apa tidak jadi ya..apa tidak bisa??trus bagaimana?kok lama banget, dan jelas sakit banget” . selama pemasangan itu saya merasakan darah yang keluar dari lubang peranakan saya banyak sekali, dan 2 perawat yang mendampingi dr.Nun juga ikut berperan aktif “Tolong mbak Nurul Pegang yang Bawah, yang kuat jangan sampai copot” . sakit ??? jangan ditanya…

sesekali dr.Nun berusaha mengajak saya ngobrol biar saya tenang, tapi saya tidak bisa, lebih baik saya kosentrasi untuk melampaui rasa sakit saya dengan meditasi dan dzikir. dan Alhamdulillah perjuangan itu selesai pada waktu jam menunjukkan pukul 22.30 berarti saya hampir satu jam ada diruang praktek untuk memasang IUD. kemudian dr. Nun kembali meng-USG saya, kali ini beliau melihat apakah alat itu sudah tepat berada ditempatnya. pikiran saya waktu itu “Waduh jika masih belum tepat apa harus saya di explorasi lagi?wah…nggak sanggup deh kayaknya” tapi Alhamd alat itu sudah bertengger cantik ditempatnya.

sambil menulis resep dr.Nun memuji ketangguhan saya menahan sakit. “Bu, kalau saja tadi ibu nggak kuat pasti sudah semaput (baca ;Pingsan) sulit banget bu, barangkali ibu punya aji-aji gitu” , saya hanya bisa menjawab sambil tersenyum setengah meringis menahan sakit batin saya “Sakitnya masih kalah dengan 3 hari Ngelarani Bima bu” hehehe

dan akhirnya saya pulang setelah menghabiskan 700 rupiah untuk administrasi dan obatnya…makanya sekarang KB tidak ngetren lagi, wong mahal banget gitu…hehehe

dan untuk anda yang perempuan, pengalaman saya ini tidak perlu ditakuti, tapi jadikan saja referensi.OK

see you next post.

Kawan….

Jangan biarkan diri kita di susahkan oleh hal-hal kecil

yang seharusnya kita remehkan dan kita lupakan.

Ingat…

Hidup ini terlalu singkat untuk mengurusi hal-hal yang kecil.

Allah menganugerahkan kepadaku “KETENANGAN”

untuk menerima segala sesuatu yang harus terjadi

Memberiku “KEBERANIAN” untuk merubah apa yang masih dapat dirubah

“KEBIJAKSANAAN” untuk melihat perbedaannya

Dia, anakku

Dia ku beri nama Bim

Tatkala dia menangispun hatiku tersenyum bahkan tertawa

Tatkala dia menjerit, menyepakku dengan kakinya yang mungil,

memukul dadaku dengan tangannya yang kecil

Hatiku pun masih tertawa, tersenyum bahagia…

Dia, anakku Bim

dengan dia siang bagai malam dan malam bagai siang

dengan dia tangis menjadi tawa dan kesedihan berubah indah

dengan dia beban yang telah ada menjadi tiada

Dia, anakku Bim

yang akan selalu membuatku tersenyum selamanya sampai dia dewasa

Dia anakku, Bim akan menjadi pelipur laraku sampai ajalku menjemput

Anakku Bim, jadilah seperti yang kau mau Nak, Bukan yang Ibu dan ayah mau

bukan seperti Yang kung dan Yang Ti mau…

Anakku Bim, Jadilah dirimu, Apa adanya bersahaja dan sederhana