Januari 2009


Pagi ini cerah sekali, Vacha sudah janji dengan suami akan menemani dia ke kondangan teman ngajarnya di masjid Akbar di Surabaya….

Vacha sudah siap-siap keluar rumah dan tiba-tiba “Mana Sendalku” ujar Vacha dengan kerasnya, “Loh tadi dipakai adikmu Belanja Cha” dari dalam rumah Ibu menjawab teriakan Vacha…

Sial…trus gimana harus ke kondangan, sendalpun cuma ada 1 yang bagus…Vacha geram setengah mati. suaminya yang tidak tahu apa-apa cuma bengong.

Dengan mengomel tak ada habisnya vacha pun berangkat naik sepeda motor dengan sang suami. terpaan angin pagi dan derunya mesin jalanan tidak membuat Vacha melupakan kejadian itu, sepanjang jalan Vacha ngomel terus, tak luput sang suami yang sudah berhati-hati mengendarai motor pun ikut diomelin. ‘yang enak dong nyetirnya mas, jangan cepet-cepet”, “aduh mas ini, bisa nggak sih cari jalan yang mulus” …

Vacha yang masih saja dongkol dengan adiknya, dengan lirih berkata “coba mas kita punya duit banyak, bisa beli sendal bagus, baju bagus, punya mobil, punya rumah”.

dan suaminya cuma tertawa…”Sayangku, kenapa melihat yang atas saja, ingat ya…syukur, biar tidak di azab Allah”.

“Loh aku kan cuma berharap, masak ndak boleh”

“boleh saja, tapi jangan seperti prostes pada Allah, jangan menjadi tidak qonaah, jangan sampai Allah murka pada kita hanya karena sendal, baju, rumah dan mobil yang tidak berharga di dunia ini”

Vacha tiba-tiba terdiam, “Ya Allah” teriak dia spontan…kemudian dia berhenti ngomel dan terdengan lafaz lirih dari mulutnya yang mungil, Astaghfirullah…

Sang suami hanya tersenyum dan berkata sambil mengedipkan sebelah matanya “Nah gitu dong istri ku tercinta”

Tiba-tiba…”Eh mas ati-ati jangan meleng aja dong masak aku mau ditabrakin sih”

Sang suami Tertawa keras sekali …

Dia tersenyum…

dengan raut muka yang carut marut, nyaris bopeng sana – sini

Dia tersenyum….

dengan sebelah kakinya yang buntung, dengan tangannya yang hancur

Dia tersenyum….

dengan selembar kain lusuh yang menghiasi kepalanya, dengan bayi mungil tanpa nyawa di pelukannya

Dia tersenyum…

dengan cucuran air mata

Dia tetap tersenyum, walau hujan mesiu, walau bom berterbangan

Dia tetap tersenyum, walau perih tak terelakkan

dan Dia akan selalu tersenyum, karena Dia tahu

Rabb nya Yang Agung telah menunggunya

dengan senyuman…..