PUISI


Ketika kau mengadu atas laramu,

dan menyandarkan kepala di bahuku….

Ketika kau menangis karena laramu itu,

dan ingin pelukanku….

Aku ada…selalu..

Dia tersenyum…

dengan raut muka yang carut marut, nyaris bopeng sana – sini

Dia tersenyum….

dengan sebelah kakinya yang buntung, dengan tangannya yang hancur

Dia tersenyum….

dengan selembar kain lusuh yang menghiasi kepalanya, dengan bayi mungil tanpa nyawa di pelukannya

Dia tersenyum…

dengan cucuran air mata

Dia tetap tersenyum, walau hujan mesiu, walau bom berterbangan

Dia tetap tersenyum, walau perih tak terelakkan

dan Dia akan selalu tersenyum, karena Dia tahu

Rabb nya Yang Agung telah menunggunya

dengan senyuman…..

Suatu saat dimana

Langit tidak mendung lagi

Suatu saat dimana

Hati tak lagi biru

Suatu saat dimana

pintu hati tlah terbuka

dan dimensi ruang juga waktu

Memberiku kesempatan

Suatu saat itu

aku akan datang dan memelukmu erat

Hingga kau mengerti….

kalau aku mencintaimu…

Alamku…

masih bisakah aku

menjamahmu, mencium wangi tanahmu

alamku

hujan seperti dulu

arsirannya masih saja tegas nan cantik

tapi aku alamku…

tak lagi seperti dulu…

alamku…

inikah diriku?

Saat hari telah senja

Saat gelombang ombak sudah tidak lagi menghentak

Saat cahaya sudah tidak lagi terang

Saat tetumbuhan terlihat layu

Dan jasadku telah berubah seperti itu…

Tapi saat itu, ku ingin jiwaku masih mengelora

Masih menyala terang

Saat hari senja

Saat usia tak lagi muda

Aku ingin terus berkarya, aku ingin terus bergelora

Aku ingin selalu menyinari bunga-bunga yang bermekaran…

Menjadi setetes air yang sejuk

Bagi mereka

Sampai tiba waktu itu, yang tidak lagi bisa ku abaikan

Syukurku menipis…

Kala diriku terpana silau hartanya…

Syukurku yang sedang diambang pintu kemiskinan…

seakan-akan tambah meronta saat hati ini tergoda harta yang dimilikinya

Ah…kenapa syukurku hanya sebatas harta melimpah?

Bukankah mata ini lengkap, bisa melihat pun harus ku syukuri…

Bukankah aku bisa memberi sedekah dan tidak meminta-minta pun harus ku syukuri..

Bukankah jika pun tidak ada uang tetapi badan ini masih sehat pun harus dan tetap ku syukuri…

Ayo…Alam, ayo Makhluk Tuhan, ajari aku terus bersyukur, dalam keadaan apapun

suamiku, katankan jika aku cantik

secantik bidadari yang konsisten dengan wudhunya

suamiku, katakan jika aku cantik

walau aku sudah berkerut karena usia,

walau aku gendut karena mengandung anak kita,

walau kulitku hitam karena membantumu mencari nafkah,

walau bibirku pecah dan tidak merah merekah karena lebih baik rizki yang diberikan Allah kita belikan susu anak kita dari pada pemerah bibir yang tak berharga,

suamiku, tetaplah katakan aku cantik

apapun keadaan diriku, cantik bukan fisikku

lihatlah aku dikedalaman jiwa dan pengorbananku untuk mendampingimu

lihatlah aku karena perhatian dan kasih sayangku untuk mu dan anak kita

lihatlah aku apa adanya…

suamiku, temukan keindahan itu pada diriku

dan biarkan kita bersama-sama meniti surga bersama, dengan mesra dan penuh keikhlasan.

Semburat merah wajahnya

senyum tersungging manis, merekah dari bibir mungilnya

Matanya menyiratkan keindahan kasihnya untuk ku

Alisnya bertaut jenaka ketika ku balas tatapan mesranya

kini, bibir mungilnya mengerucut

ketika aku mengajaknya bicara, mengajaknya bercanda

lihatlah dia menjulurkan lidahnya, tanda bahagia

lihatlah binar di bola matanya yang hitam

lihatlah dibibirnya yang ditarik lepas

lihatlah tangan mungilnya yang mengapai-gapai

kakinya yang menghentak-hentak

lihatlah dia, yang seakan ingin berkata

“I Love You, Mom” dengan Mesra….

Tatkala temaram datang mewarnai langit

Jiwa yang sudah gundah pun kian tercabik

Seakan ikut merasakan dunia yang akan terasa sunyi dan dingin

Andaikan jiwa yang ini tak terlukai sejak dulu

Mungkin walau dunia sesunyi apapun tak akan bergeming

jika saja jiwa ini selalu merindukan Dia mungkin masih ada asa tersisa

Pasti tak akan lagi sisi temaram di jiwa apalagi mendung yang mengelayut manja

Harusnya jiwa ini selalu menghadap-Nya

Seharusnya….ya seharusnya

Dia, anakku

Dia ku beri nama Bim

Tatkala dia menangispun hatiku tersenyum bahkan tertawa

Tatkala dia menjerit, menyepakku dengan kakinya yang mungil,

memukul dadaku dengan tangannya yang kecil

Hatiku pun masih tertawa, tersenyum bahagia…

Dia, anakku Bim

dengan dia siang bagai malam dan malam bagai siang

dengan dia tangis menjadi tawa dan kesedihan berubah indah

dengan dia beban yang telah ada menjadi tiada

Dia, anakku Bim

yang akan selalu membuatku tersenyum selamanya sampai dia dewasa

Dia anakku, Bim akan menjadi pelipur laraku sampai ajalku menjemput

Anakku Bim, jadilah seperti yang kau mau Nak, Bukan yang Ibu dan ayah mau

bukan seperti Yang kung dan Yang Ti mau…

Anakku Bim, Jadilah dirimu, Apa adanya bersahaja dan sederhana

Halaman Berikutnya »