Pernah tidak, mendengar cerita ada anak yang kalau memberi sesuatu suka berlebihan. Misalnya saja, dengan enteng dia memberikan seraup uang logam yang ada di mobil ibunya kepada seorang pengemis di jalan. Kalau dijumlahkan, uang logam dalam genggamannya itu bisa mencapai 3 ribu sampai 5 ribu rupiah. Padahal pengemis di jalan tidak cuma satu. Masih banyak pengemis lain yang akan minta sedekah. Dari situ, wajarlah kalau lantas orangtua menilai anak kelewat dermawan.Akan tetapi bagi anak sendiri sebenarnya bukan suatu masalah apakah terkesan berlebihan atau tidak. (lagi…)
Untuk GURU
Mei 6, 2009
Mei 6, 2009
Orang tua memang dituntut untuk menularkan etiket pada anak. Namun, mengajarkan etiket tak bisa dilakukan dalam satu hari. Perlu proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten serta berkesinambungan agar hasilnya maksimal. Terkadang, meskipun orang tua sudah “bersusah payah” mendidik si kecil agar bersikap sopan, lingkungan di luar rumah justru memberikan model yang berlawanan. Ada juga yang menyikapi perilakunya secara permisif misalnya meng- izinkan si prasekolah merebut mainan anak lain tanpa meng- upayakan cara yang santun dan beranggapan, “Biarin aja begitu, namanya juga anak-anak. Nanti juga berubah kok sikapnya kalau sudah besar.” Nah, justru pemakluman seperti ini secara langsung maupun tidak mengakibatkan anak menerapkan perilaku tak sopan bahkan menganggap apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Alhasil, sikap tidak beretiket akan terus terbawa sampai besar. Kalau sudah begitu, akan sulit sekali untuk mengubah perilakunya.
Sebenarnya ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan orang tua agar anak cerdas bertatakrama, yaitu:
ORANG TUA SEBAGAI MODEL
Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut. Asal tahu saja, pola pengajaran bertatakrama tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.
Kemudian, orang tua juga mesti konsisten dan konsekuen menerapkan adab yang baik. Misalnya, ayah/ibu minta si prasekolah setiap makan di meja makan. Akan tetapi dia sendiri makan di ruang tengah sambil nonton teve atau sambil berdiri. Ya, tentunya takkan berefek maksimal. Mungkin saja si anak malah protes, “Kok ayah makannya sambil nonton teve, sih?”
Yang perlu diwaspadai, anak dapat berperilaku berlawanan karena menyontoh orang lain baik yang sebaya ataupun lebih dewasa. Kalau sudah begitu, jelaskan pada si kecil dengan bahasa yang mudah dipahami kenapa sikap seperti itu dilarang dan tak baik dilakukan. Yang pasti jangan sambil marah-marah karena toh anak mungkin pada dasarnya tak tahu sikap yang dilakukannya itu baik atau buruk.
MULAI DARI HAL KECIL
“Pengajaran” tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak, kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.
Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu “ditularkan”, yaitu:
* Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.
* Mengucapkan “maaf” jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.
* Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.
* Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain. Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.
* Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.
* Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.
* Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.
JELASKAN TUJUANNYA
Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat ayah/ibu menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, ayah/ibu pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.
Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.
Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.
Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.
HARUS SEJAK DINI
Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya. Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Pun, jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah. Toh, pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu.(tabloid-nakita)
Mei 6, 2009
Apa pun jenis kelamin anak, ayah adalah model terdekat bagi mereka. Sikap dan perilaku ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain terekam dengan kuat dalam memori anak. Dibanding anak perempuan, ternyata anak laki-laki lebih senang mencontoh perilaku ayah mereka. (lagi…)
Mei 6, 2009
Walaupun si balita belum dapat membaca, Anda dapat mengajarnya ‘membaca’ dan mencintai buku. Berikut ini cara-cara mudah yang dapat Anda terapkan . Kemampuan membaca dan mencintai buku penting ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Karena, kegiatan membaca bersama anak merupakan kegiatan yang sangat penting bagi pembentukan dasar diri si kecil, juga untuk keseluruhan proses belajar anak, kelak. (lagi…)
April 29, 2009
Pada saat saya masih sekolah, gangguan utama dalam belajar yang dialami siswa-siswa lebih banyak karena malas dan kalau pun ada gangguan lebih karena ada tawuran atau adanya persaingan persaingan antarsekolah. Namun kini, seiring berjalannya waktu faktor-faktor yang menyebabkan siswa untuk belajar lebih karena faktor eksternal yang berkaitan dengan teknologi terutama internet, misalnya: internet-an lewat HP, main game online sampai lupa waktu, main PS-an sehari suntuk bersama teman-teman. Akibatnya, semangat untuk belajar menjadi kendur dan mengakibatkan malas dan akhirnya tidak naik kelas atau tidak lulus.
Saya pernah menanyakan pada beberapa siswa: “Siapa yang suka main game online ?” Ternyata hampir separuh lebih siswa-siswa saya angkat tangan dan mengakuinya tanpa ada perasaan malu. Lebih mengejutkan lagi, ada siswa-siswa yang sering main game online sehari minimal 5 jam atau melebihi waktu untuk belajar. Bahkan ketika liburan ada yang menyempatkan seharian tanpa istirahat dan tidak pulang ke rumah dan paginya bolos sekolah.
Maraknya bermain game online saat ini juga tidak lepas dari suburnya bisnis game online, terutama lokasi-lokasi dekat sekolah atau kampus. Disisi lain mereka diuntungkan, tetapi disisi lain, para siswalah yang menjadi korban perkembangan teknologi. Mereka terjebak dalam arus jaman dan kurangnya kontrol dari orang tua membuat bermain menjadi lebih longgar. Peran guru dan orang tua menjadi penting disini.
Itulah sekilas gangguan belajar yang dialami para siswa terutama di daerah kota. Gangguan ini tentu saja berbeda dengan gangguan yang dialami anak-anak di daerah perkotaan atau yang jauh dari hingar bingar kota dan budaya konsumerisme.
Lalu, bagaimana upaya yang harus kita lakukan baik sebagai siswa, guru ataupun orang tua ? Bermain pada prinsipnya boleh dan tidak ada melarang, yang diperlukan adalah bisa mengatur waktu dan menempatkan diri. Berikut tip-tip dari saya untuk dapat belajar dengan baik tanpa menghilangkan waktu untuk bermain.
1. Membiasakan diri untuk teratur belajar dan terlebih dahulu menentukan topik apa yang ingin dipelajari. Misalnya hari ini saya mau belajar Matematika, besok Bahasa Inggris dan seterunya. Kebiasaan belajar pada waktu jam belajar (19.00 sd 21.00) perlu kita kembangkan dari sejak dini karena ini akan membiasakan kita untuk teratur belajar. Namun, waktu untuk belajar setiap siswa biasanay berbeda, ada senang jam tersebut, jam 12.00 bahkan ada yang suka belajar waktu pagi hari, jam 04.00. Silahkan itu boleh-boleh saja dan yang penting disini adalah adanya kebiasaan untuk belajar. Waktu efektif untuk belajar minimal 1 jam perhari.
2. Biasakan diri untuk belajar setahap demi setahap dan jangan gunakan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Cara ini tidak efektif, karena terlalu memforsir pikiran dan tenaga Anda dan faktor kesehatan menjadi taruhannya Lain halnya kalau Anda belajar setiap hari, meskipun sedikit-sedikit tetapi cara ini akan menghemat pikiran dan tenaga Anda. Lebih efektif lagi jika Anda memperhatikan dengan seksama ketika guru/dosen Anda menjelaskan, karena ini akan meringankan beban Anda untuk belajar.
3. Ambilah waktu untuk refreshing. Disini saya tidak mengharuskan Anda untuk belajar tiap hari. Carilah waktu yang kosong untuk refreshing, misalnya: baca-baca buku ringan, berolah raga, main game atau jalan-jalan dan lain-lain. Hal ini agar pikiran Anda tidak terlalu tegang. Tetapi perlu diperhatikan bahwa Anda janganlah sampai kelewat waktu dan membuang-buang energi Anda. Luapkanlah energi-energi positif Anda untuk hal-hal yang positif pula.
4. Buatlah manajemen waktu Anda secara rutin atau mencatat hal-hal yang ingin Anda lakukan di buku saku Anda. Jika hal ini Anda lakukan setidaknyan Anda sudah menjadi manajer dan pemimpin bagi Anda sendiri. Manajemen waktu penting untuk melatih hidup disiplin dan teratur. Buatlah garis-garis waktu kapan Anda bermain, kapan Anda belajar, kapan olah raga dan lain-lain.
Tentu saja Anda dapat menambahkan sendiri tip-tip belajar efektif sesuai dengan kegiatan Anda sehari-hari. Semoga ini bermanfaat bagi Anda.
Written by istiyanto
April 29, 2009
Walaupun banyak dari kita tidak suka berbicara di depan orang, ada waktu kita diminta untuk berdiri dan berkata beberapa kata tentang seseorang atau suatu topik dan kita belum merencanakan apa yang ingin kita katakan. Kita lebih terkejut daripada orang lain. Apakah ini pernah terjadi pada Anda? Jika ini pernah terjadi pada Anda, bersiaplah untuk menghadapi tantangan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat anda gunakan pada saat anda dipanggil untuk berbicara.
1. Tentukan secara cepat akan satu pesan
Perlu diingat Anda belum diminta untuk memberikan sambutannya, tetapi Anda punya beberapa hal apa yang ingin Anda sampaikan. Ingat satu pesan dan fokuslah pada pesan itu. Kembangkan ide utama pesan tersebut. Kadang-kadang ide mucul setelah Anda mulai mengatakan sesuatu. Jika hal ini terjadi, berbicaralah mengalir dan ikuti instict Anda.
2. Jangan coba dan hafal apa yang ingin Anda katakan
Mencoba mengingat hanya akan membuat Anda lebih gugup dan Anda akan menemukan diri anda berpikir lebih lanjut tentang kata-kata dan tidak fokus tentang pesan yang ingin Anda sampaikan.
3. Yakinlah dengan kemampuan Anda
Jika Anda sedikit punya persiapan, mulailah dengan kalimat pembuka. Rencanakan kalimat pertama apa yang ingin Anda sampaikan. Seperti halnya ketika Anda punya persiapan, mungkin Anda pernah membuat poin-poin penting apa yang ingin Anda sampaikan. Jika Anda yakin punya 3 poin apa yang ingin Anda sampaikan, katakan saja: “Saya ingin menyampaikan 3 poin penting, pertama, kedua dan seterusnya … “.
4. Beri jeda atau transisi antara poin satu dengan poin lainnya
Setelah Anda menyampaikan poin penting, berilah jeda dengan transisi yang halus dan jelas antara poin yang satu dengan poin yang lain.
5. Kontak mata dengan audience
Pandanglah arah audience dan jangan memandang ke arah lain selain audience. Hal ini akan membuat audience lebih mengerti akan apa yang ingin Anda sampaikan.
6. Akhirnya, buatlah kesimpulan yang baik
Misalnya dengan mengatakan: “Pada poin terakhir ini saya ingin menyampaikan … ” atau “Sekali lagi say ingin mengatakan ….” dll.
Dengan sedikit praktek, proses ini akan terasa lebih alami untuk Anda. Dan Anda akan tidak perlu pusing-pusing untuk berpikir jika Anda sudah terbiasa.
April 29, 2009
Siapa yang saat ini tidak mengenal handpone (HP) ? Sebagian besar dari anak SD sampai SMA memiliki HP, sehingga HP bukanlah barang yang istemewa atau mewah untuk saat ini. Lain halnya ketika saya SMA. Saat itu HP masih menjadi barang mewah dan jarang ada siswa yang memilikinya.
Seiring perkembangan waktu, peran e-learning mulai tergeser dengan adanya m-learning (mobile learning). Dalam hal ini m-learning tidak pernah menggantikan e-learning, karena sarana yang digunakan memang berbeda. Jika e-learning menggunakan internet sebagai sarana dalam proses pembelajaran, maka m-learning memacu pada teknologi mobile (HP) sebagai sarana dalam proses pembelajaran.
Pernahkah Anda melihat siswa yang belajar menggunakan hp ? Baik itu melihat video tutorial atau mendengarkan musik ? Yap, saat ini memang belum banyak lembaga pendidikan yang memanfaatkan m-learning dalam proses pembelajaran. Tetapi ke depan menurut saya, teknologi m-learning akan semakin banyak digunakan karena melihat kebutuhan pengguna yang saat ini lebih banyak menggunakan teknologi mobile. Selain itu, teknologi m-learning memiliki keunggunalan dalam hal kepraktisannya, karena media yang digunakan cukup kecil dan bisa dibawa kemana-mana. Namun konsekuensinya konten-konten yang bisa digunakan dalam m-learning harus memiliki ukuran file yang relatif lebih kecil. Teknologi java tentu akan banyak berperan dalam m-learning.
Lalu konten-konten apa saja yang bisa diletakkan dalam m-learning ? Beberapa konten diantaranya:
1. File-file pdf (tutorial, modul, soal-soal latihan)
2. Media pembelajaran berbasis flash
3. File-file office (word, excel, ppt)
4. File-file multimedia (music, video)
5. Game-game pendidikan dll.
Tentu saja untuk dapat menjalankan aplikasi-aplikasi diatas, handpone yang digunakan juga harus mendukung format-format file dari media diatas. Sehingga spesifikasi handpone juga termasuk salah satu hal yang menjadi prasyarat untuk dapat menggunakan m-learning.
M-learning dan e-learning sebenarnya dapat berjalan bersamaan. Bahkan saat ini sudah banyak para siswa yang menggunakannya. Misalnya para siswa dapat mengakses materi pembelajaran yang disediakan oleh gurunya melalui browser yang terdapat pada handpone mereka masing-masing. Dan menurut saya ini merupakan langkah maju penggunaan teknologi dalam bidang pendidikan. Namun biaya untuk mengakses internet dan jaringan internet masih menjadi kendala dalam hal ini. Untuk mengatasi hal ini sebenarnya sekolah dapat menggunakan fasilitas wifi, sehingga siswa dapat dengan mudah menggunakan m-learning ketika meraka belajar. Cara lain adalah dengan memberikan file-file pembelajaran secara offline, artinya siswa meng-copy file-file tersebut dari gurunya tanpa menggunakan internet (misalnya bluetooth, infrared, kabel usb dll).
Sebagai seorang yang bergerak dalam bidang pendidikan, saya sangat mendukung penggunaan m-learning dalam proses pembelajaran. Semakin banyak cara yang dilakukan siswa dan banyaknya media yang menarik dalam belajar akan semakin mudah pula memahami materi yang mereka pelajari. Saya yakin ke depan teknologi m-learning akan berkembang dengan pesat di Indonesia.
April 29, 2009
Upaya pengklasifikasian media dapat mengungkapkan karakteristik atau ciri-ciri suatu media berbeda menurut tujuan atau maksudnya pengelompokannya. Dari contoh pengelompokan yang diadakan oleh para ahli (Schramm), kita dapat melihat media karakteristik ekonomisnya, lingkup sasarannya yang dapat diliput, dan kemudahan kontrol pemakai. Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuan membangkitkan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan maupun penciuman atau kesesuaiannya dengan tingkat hierarki belajar seperti yang digarap oleh Gagne, dan sebagainya.
Karakteristik media inisebagaimana dikemukakan oleh Kemp (1975) merupakan dasar pemilihan media sesuai dengan situasi belajar tertentu. Dia mengatakan “The question of what media attributesare necessary for a given learnign for situation becomes the basis for media selection”. Jadi klasifikasi media, karakteristik media, dan pemilihan media merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran.
Untuk tujuan-tujuan praktis dibawah ini akan dibahas karakteristik beberapa jenis media yang lazim dipakai dalam kegiatan belajar mengajar khususnya di Indonesia.
1. Media Grafis
Media grafis termasuk media visual. Sebagaimana media yang lain media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam simbol-simbol komunikasi visual. Selain itu media grafis juga berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.
Selain sederhana dan mudah pembuatannya media grafis termasuk media yang relatif murah ditinjau dari segi biayanya. Beberapa media grafis dengan ciri-cirinya adalah sebagai berkut:
a. Gambar/Foto
Diantara media pendidikan, gambar/foto adalah media yang paling mudah dipakai. Dia merupakan bahasa yang umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana.
Kelebihan media gambar/foto
1. Sifatnya konkret; lebih realistis menunjukan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
2. Gambar dapat mengatasi ruang dan waktu.
3. Media gambar/foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.
4. Foto dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.
5. Foto harganay murah dan gampang didapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus.
Kelemahan media gambar/foto
1. Gamabr/foto hanya menekankan persepsi indera mata.
2. Gamar/fota benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran.
3. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besa.
Untuk dijadikan sebagai media pembelajaran baik, media foto setidaknya mempunyai beberapa syarat:
1. Autentik
2. Sederhana
3. Ukuran relatif
4. Gamabar/foto sebaiknya mengandung gerak dan perbuatan.
b. Sketsa
Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draft kasar yang melukiskan bagaian-bagian pokoknya tanpa detail. Karena setiap orang yang normal bisa belajar menggambar, seorang guru haruslah dapat menuangkan ide-idenya kedalam bentuk sketsa. Sketsa selain dapat menarik perhatian murid, menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tak perlu dipersoalkan sebab media ini langsung dibuat guru.
c. Diagram
Sebagai suatu gambar yang sedrhana yang menggunkan garis-garis dan simbol-simbol, diagram atau skema menggambarkan struktur dari objek secara garis besar. Diagram menunjukan hubungan yang ada antara komponen dan sifat-sifat proses yang ada disitu.
Kriteria diagram yang baik untuk dijadkan sebagai media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Benar, digambar rapi, diberi titel, label dan penjelasan-penjelasan yang perlu.
2. Cukup besar dan ditempatkan secara strategis, dan
3. Penyusunannya disesuaikan dengan pola membaca yang umum yaitu dari kiri ke kanan dan dari atas kebawah.
d. Bagan/Chart
Seperti halnya media grafis yang lain, chart termasuk media visual. Fungsinya yang pokok adalah menyampaikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi.
Sebagai media yang baik, bagan haruslah:
1. Dapat dimengerti anak
2. Sederhana dan lugas, tidak rumit dan berbelit-belit.
3. Diganti pada waktu tertentu agar selain tetap termasa juga tak kehilangan daya tarik.
e. Grafik (Grafhs)
Sebagai suatu media visual, grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, garis atau gambar. Untuk melengkapinya seringkali simbol-simbol verbal digunakan pula dsitu.
Fungsi grafik adalah untuk menggambarkan data kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas.
Sebagai media pendidikan yang baik, media grafik harus mampu memenuhi beberapa kriteria-kriteria, diantaranya:
1. Jelas untuk dilihat oleh seluruh kelas
2. Hanya menyajikan satu ide setiap grafik
3. Ada jarak/ruang kosong antara kolom-kolom bagiannya.
4. Warna yang digunakan kontras dan harmonis.
5. Berjudul dan ringkas
6. Sederhana (simplicity)
7. Mudah dibaca (legibility)
8. Praktis, mudah (manageability)
9. Menggambarkan kenyataan (realisme)
10. Menarik (attractiveness
11. Jelas dan tak memerlukan informasi tambahan (appropiateness
12. Telioti (accuracy))
Ada beberapa jenis grafik yang dapat kita gunakan diantaranya adalah grafik gari (line graphs), grafik batang (bargraphs), grafik lengkaran (circle atau pie graphs) dan grafik gambar (pictorial graphs).
f. Kartun
Kartun merupakan salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan sesuatu pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang, situasi, atau kejadian-kejadian tertentu.
g. Poster
Poster tidak hanya penting untuk menyampaikan kesan-kesan tertentu tetapi dia mampu pula untuk mempengaruhi dan memotivasi tingkah laku orang yang melihatnya. Poster berfungsi untuk mempengaruhi orang-orang untuk membeli produk baru darei sesuatu perusahaan, untuk mengikuti program keluarga berencana atau untuk menyayangi binatang dapat dituangkan lewat poster.
Kriteria poster yang baik hendaklah;
1. Sedehana
2. Menyajikan satu ide dan untuk mencapai suatu tujuan yang pokok
3. Bewarna
4. Slogannya ringkas dan jitu
5. Tulisannya jelas
6. Motif dan disain bervariasi.
h. Peta dan Globe
Peta dan globe berfungsi untuk menyajikan data-data lokasi. Alasan kenapa peta dipakai sebagai media dalam KBM:
1. Memungkinkan siswa mengerti tentang suatu posisi daerah.
2. Dapat merangsang minat siswa terhadap penduduk dan pengaruh-pengaruh geografis.
3. Memungkinkan siswa memperoleh gamabaran tentangimigrasi dan distribusi penduduk, tumbuh-tunbuhan dan kehidupan hewan serta bentuk muka bumi sebenarnya.
i. Papan Flanel/Flannel Board
Papan Flannel adalah media grafis yang efektif sekali untuk menyajikan pesan-pesan tertentukepada sasaran tertentu pula. Papan berlapis kain flanel ini dapat dilipat sehingga praktis. Gambar-gambar yang akan disajikan dapat dipasang dan dicopot dengan mudahse hingga dapat dipakai berkali-kali.
j. Papan Buletin (Bulletin Board)
Berbeda dengan papan flanel, papan buletin ini tidak dilapisi kain flanel tetapi langsung ditempel gambar-gambar atau tulisan-tulisan. Fungsinya selain menerangkan sesuatu, papan buletin dimaksudkan untuk memberitahukan kejadian-kejadian dalam waktu tertentu.
2. Media Audio
Berbeda dengan media grafis, media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan didalam lambang-lambang auditif, baik verbal (kedalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal. Beberapa jenis media audio:
a. Radio
Sebagai suatu media, radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media yang lain:
1. Harga realtif murah dan program yang variatif
2. Sifatnya mudah dipindahkan (mobile)
3. Jika digunakan dengan alat perekan radio bisa mengatasi problem jadwal
4. Radio mengembangkan daya imajinasi anak
5. Dapat merangsang partisipasi aktif pendengar
6. Radio dapat memperhatikan siswa pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya.
7. Siaran lewat suara terbukti amat tepat/cocok mengajarkan musik dan bahasa.
8. Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik bila dibandingkan denagn jika dikerjakan oleh guru.
9. Dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.
Adapun kelemahan dari media ini meliputi:
1. Sifat komunikasinya hanya satu arah (one way communication)
2. Biasanya siaran disentalisasikan sehingga guru tidak dapat mengontrolnya.
3. Penjadwalan siaran dengan jadwal pelajaran sering menimbulkan masalah.
b. Alat Perekam Pita Magnetik
Alat perekam pita magnetik (magnetic tape recording) atau lazimnya orang menyebutnya tape recorder adalah salah satu media penddikan yang tak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya.
Beberapa kelebihan alat perekam sebagai media mendidikan adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai fungsi ganda, untuk merekan, menampilkan rekaman dan menghapusnya.
2. Pita perekam dapat diputar berulang-ulang tanpa mempengaruhi volume.
3. Rekaman dapat dihapus secara otomatis dan pitanya bisa dipakai lagi.
4. Pita rekaman dapat dipakai sesuai dengan jadwal yang ada.
5. Program kaset dapay menyajikan kegiatan-kegiatan/hal-hal diluar sekolah.
6. Program kaset bisa menimbulkan beberapa kegiatan; diskusi, dramatisasi dll.
7. Program kaset memberiklan efesiensi dalam pengajaran bahsa.
Kelemahan program kaset:
1. Daya jangkauan terbatas
2. Dari segi biaya, bila untuk sasaran yang banyak jauh lebih mahal.
c. Laboratorium Bahasa
Merupakan alat utnuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya. Media yang dipakai adalah alat perekam.
3. Media Proyeksi Diam
Media proyeksi diam (still proyected medium) mempunyai persamaan dengan media grafik dalam arti menyajikan rangsangan-rangsangan visual. Selain itu, bahan-bahan grafis banyak sekali dipakai dalma media proyeksi diam. Perbedaan yang jelas antara mereka adalah pada media grafis dapar secara langsung berinteraksi dengan pesan media yang bersangkutan pada media proyeksi, pesan tersebut harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran; terlebih dahulu.
Beberapa jenis media proyeksi diam beserta karekteristik yang dimilkinya dapat dilihat dalam uraian berikut ini:
a. Film Bingkai
Film bingkai adalah suatu film berukuran 35 mm, yang bisanya dibungkus bingkai berukuran 2×2 inci terbuat dari karto, atau plastik (dan berbagai ukuran lagi).
Beberapa keuntungan penggunaan film bingkai:
1. Materi pelajaran yang sama dapat disebarkan kepa siswa secara serentak.
2. Perhatian anak dapat dipusatkan, sehingga menghasilkan keseragaman pengamatan.
3. Fungsi berfikir penonton dirangsang dan dikembangkan secara bebes.
4. Film bingkai berada dibawah kontrol guru.
5. Film bingkai baik untuk menyajikan berbagai bidang studi tertentu, dapat digunakan baik secara kelompok maupun individual, tidak pandang usia.
6. Penyimpanan film bingkai sangat praktis.
7. Film bingkai dapat mengatasi keterbatasa ruang, waktu dan indera.
8. Program film bingkai dapat menjadikan media yang sangat efektif bila dibandingkan dengan media cetak yang berisi gambar yang sama.
9. Program film bingkai bersuara mudah direvisi/diperbaiki, baik visual maupun audionya.
10. Film bingkai adalah media yang relatif sederhana/mudah, baik cara membuatnya maupun menggunakannya dibandingkan media TV atau film. Biayanya pun relatif murah.
11. Program dibuat dalam waktu yang singkat
Kelemahan dan keterbatan film bingkai:
1. Seri film bingkai yang terdiri atas gambar-gambar lepas merupakan kelebihan sekaligus merupakan titik kelemahan
2. Hanya menyajikan objek-objek diam (still). Hingga kurang efektif untuk menyajikan tujuan pelajaran yang bersifat gerakan.
3. Bila ruanagn tidak digelapkan, gambar yang diproyeksikan kurang jelas sehingga penyajian film bingaki kurang memuaskan.
b. Film Rangaki
Bebeda dengan film bingakai, gambar (frame) pada film rangkai berurutan merupakan satu kesatuan. Memiliki ukuran yang sama dengan film bingkai. Jumlah gambar dalam satu rol film rangkai antara 50-75 gambar. Seyogianya film bingkai, film rangkai bisa silent dab bisa pula sound.
Kelebihan yang ada pada media pendidikan film rangkai:
1. Kecepatan penyajian bisa diatur, dapat ditambah narasi dengan kontrol oleh guru.
2. Semua kelebihan non projected still picture dimilki film rangkai.
3. Dapat mempersatukan berbagai media pendidikan yang berbeda dalam satu rangkai, seperti misalnya: foto, bagan, dokumen, gambar, tabel, simbol kartun dll.
4. Cocok untuk mengajarkan keterampilan.
5. Urutan gambar sudah pasti karena film rangkai merupakan satu kesatuan.
6. Penyimpanan muda, cukup digulung, dan dimasukkan dalam tempat khusus.
7. Dapat untuk belajar kelompok dan individu.
Kelemaham pokok film rangkai dibandingkan film bingakaiadalah sulit diedit dan direvisi karena sudah merupakan satu kesatuan, sukar dibuat sendiri secara lokal dan memerlukan peralatan laboratorium yang dapat mengubah film bingkai ke film rangkai.
c. Media Transparansi.
Media tansparansi (overhead transparency=OHT) seringkali disebut dengan perangkat kerasnya OHP. Media transparansi adalah media visual proyeksi dibuat diatas bahan transparan, biasanya film acetate atau plastik berukuran 8 ½ “x11”. Sebagai perangkat lunak, bahan transparan yang berisi pesan-peasan tersebut memerlukan alat khusus untuk memproyeksikannya, yaitu OHP.
Kelebihan media transparansi:
1. Gambar yang akan diproyeksikan akan lebih jelas dibanding gambar dipapan.
2. Guru sambil mengajar dapat berhadapan dengan siswa.
3. Benda yang kecil dapat diproyeksikan.
4. Memungkinkan diskriminasi warna dan menarik minat siswa.
5. Tak memerlukan tenaga bantuan operator, kaena mudah dioperasikan.
6. Lebih sehat dari papan tulis.
7. Praktis digunakan untuk semua ukuran kelas ruangan.
8. Menghemat tenaga dan waktu karena dapat dipakai berulang.
9. Sepenuhnya dibawah kontrol guru.
Sekalipun banyak kelebihan, media transparansi memilki keleman:
1. Suku cadang projektor media transparansi kadang sulit dicari.
2. Transparansi memerlukan waktu, usaha dan persiapan yang baik.
3. Karena lepas, transparansi menuntut cara kerja yang sistematis dalam penyajiannya.
4. Jika teknik pemanfaatan serta potensinya kurang dikuasai ada kecendrungan OHP dipakai sebagai pengganti papan tulis dan siswa cendrung pasif.
d. Proyektor Tak Tembus Pandang
Merupakan alat untuk memproyeksikan bahan bukan transparan, tetapi bahan-bahan tidak tembus pandang (opaque). Benda-benda tersebut adalah benda datar, tiga dimensi seperti mata uang, model, serta dan anyaman dapat diproyeksikan.
Kelebihan media proyektor tak tembus pandang:
1. Bahan-bahan cetak pada buku, majalah, foto grafis, bagan, diagram atau peta dapat diproyeksi langsung tanpa ada pemindahan pada transparan.
2. Dapat digunakam pada semua bidang studi
3. Dapat memperbesar benda yang kecl.
Adapun kelemahannya bahwa proyektor tembus pandang tidak seperti OHP yang bisa digunakan diruang gelap.
e. Mikrofis (Microfhice)
Adalah lembaran film transparan terdiri dari lamabng-lambang visual (grafis maupun verbal) yang diperkecil sedemikian rupa sehingga tak dapat dibaca dengan mata telanajang. Ukurannya bisa 3×5 inci, 6×8 atau 4×6. Microfis termasuk kelompok media bentuk kecil (microform). Secara fisik gulungan microform tersebut dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu menggunakan film 16 mm atau 35 mm, dalam bentuk kaset atau terbuka; yang berbentuk lembaran yaitu yang kita kenal sebagai microfis.
Keuntungan Microfis:
1. Mudah dicopy cetak, dan diduplikasi dengan biaya yang relatif murah
2. Bisa diproyeksi kelayar lebar
3. Karena dalam bentuk lembaran, ringkas, hemat tempat dan praktis untuk dikirim.
4. Informasi kepustakaan yang terletak dibagian atas lembaran mudah untuk diidentifikasi.
Kelemahan microfis yang perlu diperhatikan:
1. Pembuatan masternya mahal.
2. Mudah hilang.
3. Bila telah banyak, sulit memfilenya sehingga mudah masuk filing.
f. Film
Film merupakan media yang amat besar kemampuannya dalam membantu proses belajar mengajar. Ada tiga macam ukuran film yaitu 8 mm, 16 mm dan 35 mm. Ukuran yang dipakai untuk sekolah adalah 16 mm.
Sebagai suatu media, film mempunayi beberapa keunggulan:
1. Film merupakan suatu denominator yang umum. Baik anak yang cerdas maupun lamban akan memperoleh sesuatu dari film yang sama. Keterampilan membaca atau penguasaan membaca atau penguasaan bahasa yang kurang bisa diatasi dengan menggunakan film.
2. Film sangat bagus untuk menerangkan suatu proses, dengan gerakan lambat, pengulanagn akan memperjelas uraian dan ilustrasi.
3. Film dapat kembali menampilkan masa lalu dan menyajikannya kembali.
4. Film dapat mengembara dengan lincahnya dari suatu negara kenegara yang lain.
5. Film dapat menyajikan baik teori maupun praktik.
6. Film dapat mendatangkan seorang ahli dan memperdengarkan suaranya dikelas.
7. Film dapat menggunakan teknik-teknik seperti warna, gerak lambat, animasi dll.
8. Film memikat perhatian anak.
9. Film lebih realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan. Hal yang abstrak dapat menjadi jelas.
10. Film dapat mengatasi keterbatasan daya indera kita (penglihatan)
11. Film dapat merangsang dan memotivasi kegiatan anak-anak.
Kelemahan film antara lain; harga/biaya produksi lebih mahal, film tidak dapat mencapai semua tujuan pembelajaran, penggunaan perlu ruang gelap.
g. Film Gelang.
Film gelang/ film loof (loof film) adalah media yang terdiri dari film berukuran 8 mm dan 16 mm yang ujung-ujungnya saling bersambunga, sehingga film ini akan berputar terus beerulang-ulang kalau tidak dimatikan.
Kelebihan film gelang;
1. Ruang tak perlu digelapkan
2. Dapat berputar terus dan berulang sehingga pengertian yang kabur menjadi jelas.
3. Baik sekali utnuk menunjukan periode yang pendek, yang berisikan gerakan-gerakan tertentu dari suatu objekyagn dipelajari.
4. Film gelang mudah diintegrasikan kepelajaran dan dipakai bersama dengan medium lain.
5. Karena sederhana muridpun bisa memakainya sendiri.
6. Film dapat dihentikan sesaat untuk diselingi penjelasan dan diskusi.
h. Televisi (TV)
Sealin film televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio visual dengan disertai unsur gerak. Dilihat dari sudut jumlah penerima pesannya, televisi tergolong kepada media massa.
Kelebihan media televisi meliputi:
1. TV dapat menerima, menggunkan dan mengubah atau membatasi semua bentuk media yang lain, menyesuaikan dengan tujuan yang kan dicapai.
2. TV merupakan medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena mereka mengenalnya sebagi kehidupan diluar sekolah.
3. TV dapat memikat perhatian sepenuhnya dari penonton.
4. TV mempunayi realistis dari film tapi juag mempunayi kelebihan yang lain yaitu immediacy (objek yang baru ditangkap kamera dapat segera dipertontonkan).
5. Sifatnya langsung dan nyatadengan TV siswa dapat mengetahui kejadian-kejadian yang mutakhir, mereka bisa mengadakan kontak dengan orang-orang besar/terkenal dalam bidangnya, melihat dan mendengarkan meeka berbicara.
6. Horison kelas dapat diperlebar dengan TV. Batas dan ruang dapat diatasi.
7. Hampir setiap mata pelajaran bisa diTVkan
8. TV dapat meningkatkan pengetahun dan kemampuan guru dalam mengajar.
Beberapa kelemahan TV sebagai meida:
1. Harga pesawat TV relatif murah
2. Sifat komunikasinya hanay satu arah.
3. Jika akan dimanfaatkan dikelas jadwal siran dan jadwal pelajaran disekolah sering kali sulit disesuaikan.
4. Program diluar kontrol guru.
5. Besarnya gambar relatif kecil dibanding denagn film, sehingga jumlah siswa yang dapat memanfaatkannya terbatas.
i. Video
Video sebagai media audio visual yang menmpilakan gerak, semakin lama semakin populer dalam masyarakat kita. Pesan yang disajikan bisa bersifat fakta maupun fiktif, bisa bersifat informatif, edukatif maupun intruksional.
Kelebihan video dalam media pendidikan:
1. Dapat menarik perhatian untuk periode-periode singkat dari rangsangan luar lainnya.
2. Denagn lat peekam pita video sejumlah penonton dapat memperoleh informasi dari ahli-ahli/spesialis.
3. Demonstrasi yang sulit bisa dipersiapkan dan direkam sebelumnya.
4. Menghemat waktu dan dapat diputar berulang-ulang.
5. Kamera TV lebih dekat dapat mengamati objek yang sedang bergeraka atau objek yang berbahaya seperti harimau.
6. Keras lemah suaru bisa diatur dan disesuaikan bila ada komentar.
7. Gamabr proyeksi bisa dibekukan untuk diamati secara seksama.
8. Ruang tak perlu digel;apkan saat menyajikan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan seiring denagn penggunaan alat peekam pita video dalam proses menagjar adalah:
1. Perhatian penonton sulit dikuasai, partisipasi mereka jarang di praktikan
2. Sifat komunikasinay bersifat satu arah dan ahrus dicari bentuk umpan balik.
3. Kurang mampu menampilkan detail objek yang disajikan secara sempurna.
4. Memerlukan peralatan ayng mahal dan kompleks.
Kriteria media pembelajaran diatas harus dikembangkan selain sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat dan kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan.
April 18, 2009
Supervisi kelas adalah serangkaian kegiatan yang akan dilakukan oleh pengawas untuk mengawasi tentang: setumpuk pembuatan administrasi kelas, akan diawasi dan dilihat kelemahan-kelemahannya selama mengajar, setelah itu akan menerima banyak nasehat yang berkaitan dengan tugas mengajar maupun perilaku guru pada umumnya. Kehadiran pengawas atau Kepala Sekolah yang akan melakukan supervise kelas merupakan hantu yang sangat menakutkan bagi guru selama ini. Dalam hati para guru mengatakan, “Memang saya sudah lama mengajar di depan kelas, namun demikian saya akui memang banyak hal yang seharusnya saya lakukan tetapi belum dapat saya lakukan dengan maksimal. Sebenarnya saya malu jika harus dilihat kekurangan-kekurangan saya saat mengajar”. Demikian kira-kirang yang dirasakan para guru selama ini.
Di sisi lain, para pengawas atau Kepala Sekolah untuk kegiatan supervisi kelas juga merupakan kegiatan yang dirasakan sangat membingungkan. Perasaan canggung atau sungkan muncul ketika mengamati para guru di dalam kelas saat mengajar. Perasaan itu muncul dikarenakan Pengawas atau Kepala Sekolah sudah tahu dengan pasti situasi hati para gurunya saat di awasi dalam mengajar. Atau mungkin ada beberapa pengawas atau Kepala Sekolah justru sebenarnya tidak begitu memahami berbagai permasalahan yang mungkin muncul saat melakukan supervise kelas, sehingga takut melakukannya. Atau bahkan sebenarnya beberapa Pengawas atau Kepala Sekolah tidak lebih mampu dibanding para guru dalam hal proses belajar mengajar.
Dua permasalahan besar tersebut selalu muncul di sekolah-sekolah. Namun sayang masing-masing pihak tidak berusaha untuk mengurai permsalahan tersebut. Guru di satu sisi malu untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang menjadi kendala dalam dirinya saat dilakukan supervise kelas. Di sisi lain Pengawas atau Kepala Sekolah juga seakan menjaga jarak agar nampak lebih wibawa.
Teknik baru
Bagaimana teknik supervisi kelas sehingga supervise kelas menjadi lebih “bersahabat” tidak menakutkan bagi guru, tetapi justru merupakan hal yang dinanti-nanti oleh para guru.
Ada 3 tahapan dalam melaksanakan supervise kelas yang baik:
1. Tahap sebelum melakukan supervise kelas
2. Tahap Pelaksanaan Supervisi Kelas
3. Tahap setelah supervise kelas.
Pada tahap sebelum supervise kelas, hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang pengawas atau kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1. Buatlah kesepakatan kapan akan dilakukan supervise kelas dengan guru yang bersangkutan
2. Diskusikan materi pelajaran apa yang akan diajarkan pada saat supervise kelas.
3. Bantulah dalam membuat persiapan mengajar dengan memberikan masukan-masukan yang lebih baik.
4. Yakinkan pada guru yang bersangkutan bahwa kedatangan anda (supervisor) bukan akan menilai atau mengawasi namun anda datang akan memberikan bantuan teknis yang diperlukan oleh guru.
5. Buatlah kesepakatan untuk membagi peran antara anda (supervisor) dengan guru. Anda dapat memposisikan diri dalam 3 peran:
-
- Sebagai Tim Pengajar bersama-sama guru
- Sebagai asisten guru yang sedang mengajar, misalnya bertugas membagikan lembar kerja, ikut mengkondisikan siswa dalam kelompok, membantu dalam kerja kelompok dsb.
- Sebagai pengamat
Pada tahap pelaksanaan supervise kelas, hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang pengawas atau kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1. Datanglah pagi sebelum guru masuk di dalam kelas untuk melakukan “kontrak” ulang tentang: langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan, peran masing-masing yang akan dilakukan, dan pengorganisasian waktu.
2. Masuklah ke dalam kelas bersama-sama dengan guru yang bersangkutan. Kalau supervisor masuk ke dalam kelas belakangan maka akan menganggu konsentrasi anak pada saat proses pembelajaran, dan juga mungkin menimbulkan rasa takut.
3. Mintalah guru yang bersangkutan untuk memperkenalkan diri anda (jika belum kenal) bahwa anda datang di kelas tersebut akan membantu dalam proses pembelajaran agar tidak menimbulkan rasa penasaran bagi anak.
4. Sambil memerankan peran anda dalam proses pembelajaran tersebut, jangan lupa tetap membuat catatan-catatan kecil tentang kelebihan-kelebihan maupun kekurangan-kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran.
5. Jangan sekali-sekali mengambil alih peran guru untuk anda kuasai.
Pada tahap setelah supervise kelas, hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang pengawas atau kepala sekolah adalah sebagai berikut:
Lakukanlah diskusi bersama guru dengan mematuhi 5 langkah berikut:
1) Tunjukkan sikap menghargai (tuliskan komentar anda dibawah ini)
Misalkan: Saya suka dengan kegiatan praktis yang bapak/Ibu lakukan tadi. Siswa benar-benar terlibat dalam kegiatan.
2) Tanyakan refleksi diri yang penting (tuliskan tanggapan guru tersebut dibawah ini)
Misalkan:Bagaimana perasaan anda selama proses pembelajaran tadi? Apakah anda sudah puas?
Masihkah ada kekurangan yang anda lakukan selama proses pembelajaran tadi, dibagian mana saja?
3) Tanyakan peningkatan yang ingin dilakukan oleh guru tersebut (tulis tanggapan yang diberikan oleh guru tersebut)
Misalkane: Hal apakah yang anda ingin lakukan secara berbeda bila anda melakukan pelajaran itu kembali? Mengapa? Bagaimana cara anda meningkatkan keaktifan/ kreativitas/keefektifan/ kesenangan dari pelajaran tersebut?
4) Berikan saran atau arahkan diskusi ke masalah lain yang belum disebutkan yang mungkin masih bisa ditingkatkan (tuliskan saran anda dibawah)
Misalkane: kelompok yang dipojok tampaknya tidak belajar banyak? Apa yang bisa anda lakukan untuk membantu mereka? Apakah menurut anda alat bantu belajar anda banyak membantu? Bagaimanakah cara meningkatkannya?
5) Rencana tindak lanjut (tuliskan langkah-langkah selanjutnya yang diputuskan bersama)
Misalkan: Apa yang perlu Bapak/Ibu lakukan selanjutnya agar pembelajaran yang akan dilakukan besok lebih baik?
Dengan menerapkan teknik-teknik di atas diharapkan kegiatan supervisi kelas dikemudian hari dapat lebih diterima oleh guru sebagai hal yang sangatlah wajar atau bahkan merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh para guru.
diambil dari sunartombs.wordpress.com
April 18, 2009
Pendampingan di kelas merupakan langkah riil menjaga kualitas guru
Posted by indteacher under Untuk GURULeave a Comment
Peningkatan kualitas sudah dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari peningkatan jenjang pendidikan guru yang dulu dari SPG menjadi setara D2, sampai sekarang guru-guru menjadi setara S1. Tunjangan pendidikan juga diberikan kepada guru agar kualitas mereka bertambah baik. Peningkatan kualitas guru juga dilakukan dengan berbagai ragam pelatihan untuk guru. Namun itu semua belum banyak memberikan perubahan yang signifikan.
Pendampingan terhadap guru dalam kelas
Ada kencenderungan guru bahwa mereka menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi bukan karena termotivasi untuk meningkatkan kaulitas diri, tetapi sekedar termotivasi agar dapat tersertifikasi yang berarti meningkatkan penghasilan. Nah masalah kaulitas diri..? Nanti dulu.
Hal lain yang sering terjadi adalah guru-guru mengikuti seminar, pelatihan workshop dan sebagainya juga lebih banyak dilatarbelakangi hanya untuk mengumpulkan bukti-bukti fisik untuk kepentingan portopolio. Apa aksi mereka setelah pelatihan? ya kembali seperti yang dulu.
Nah, ada cara yang lebih efektif untuk menjamin bahwa pelatihan tersebut terus bisa ditindaklanjuti sampai di kelas-kelas oleh para guru. Setelah para guru dilatih tentang suatu kompetensi tertentu sebaiknya diteruskan dengan program pendampingan di kelas-kelas.
Apa itu pendampingan?
Pendampingan adalah program follow up dari pelatihan yang telah dilaksanakan untuk kemudian mengunjungi kelas-kelas di mana para guru bekerja. Di sana pendamping bisa melihat implementasi guru dalam menerapkan keterampilan yang telah dilatihkan di dalam kelas. Pada bagian mana sudah mampu dilaksanakan dengan baik oleh para guru, dan pada bagian mana guru masih merasa kesulitan dalam menerapkannya. Pendamping dapat memberikan bantuan teknis terhadap kesulitan-kesulitan tersebut, bisa dengan memberikan contoh mengajar ataupun dengan memberikan masukan-masukan yang diperlukan.
from sunartombs.wordpress.com






