MENGASAH KECERDASAN SOPAN SANTUN

Mei 6, 2009 at 1:56 pm 1 komentar

Kelak, anak yang dibiasakan bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi dan mau mematuhi aturan umum di masyarakat.

Orang tua memang dituntut untuk menularkan etiket pada anak. Namun, mengajarkan etiket tak bisa dilakukan dalam satu hari. Perlu proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten serta berkesinambungan agar hasilnya maksimal. Terkadang, meskipun orang tua sudah “bersusah payah” mendidik si kecil agar bersikap sopan, lingkungan di luar rumah justru memberikan model yang berlawanan. Ada juga yang menyikapi perilakunya secara permisif misalnya meng- izinkan si prasekolah merebut mainan anak lain tanpa meng- upayakan cara yang santun dan beranggapan, “Biarin aja begitu, namanya juga anak-anak. Nanti juga berubah kok sikapnya kalau sudah besar.” Nah, justru pemakluman seperti ini secara langsung maupun tidak mengakibatkan anak menerapkan perilaku tak sopan bahkan menganggap apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Alhasil, sikap tidak beretiket akan terus terbawa sampai besar. Kalau sudah begitu, akan sulit sekali untuk mengubah perilakunya.

Sebenarnya ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan orang tua agar anak cerdas bertatakrama, yaitu:

ORANG TUA SEBAGAI MODEL

Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut. Asal tahu saja, pola pengajaran bertatakrama tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.

Kemudian, orang tua juga mesti konsisten dan konsekuen menerapkan adab yang baik. Misalnya, ayah/ibu minta si prasekolah setiap makan di meja makan. Akan tetapi dia sendiri makan di ruang tengah sambil nonton teve atau sambil berdiri. Ya, tentunya takkan berefek maksimal. Mungkin saja si anak malah protes, “Kok ayah makannya sambil nonton teve, sih?”

Yang perlu diwaspadai, anak dapat berperilaku berlawanan karena menyontoh orang lain baik yang sebaya ataupun lebih dewasa. Kalau sudah begitu, jelaskan pada si kecil dengan bahasa yang mudah dipahami kenapa sikap seperti itu dilarang dan tak baik dilakukan. Yang pasti jangan sambil marah-marah karena toh anak mungkin pada dasarnya tak tahu sikap yang dilakukannya itu baik atau buruk.

MULAI DARI HAL KECIL

“Pengajaran” tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak, kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.

Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu “ditularkan”, yaitu:

* Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.

* Mengucapkan “maaf” jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.

* Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.

* Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain. Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.

* Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.

* Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.

* Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.

JELASKAN TUJUANNYA

Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat ayah/ibu menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, ayah/ibu pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.

Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.

Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.

Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.

HARUS SEJAK DINI

Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya. Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Pun, jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah. Toh, pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu.(tabloid-nakita)

Entry filed under: TIK kelas 1. Tags: .

Ayah, Menentukan Kualitas Anak BELAJAR MENJADI DERMAWAN YANG RASIONAL

1 Komentar Add your own

  • 1. indri puspitasari  |  Juli 1, 2010 pukul 6:18 am

    terima kasih atas sarannya saya sangat setuju mohon beritahu saya berita selanjutnya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About This Blog

Assalamualaikum Blog ini aku persembahkan untuk murid-muridku, Belajar TIK dari sini ya NAK!! untuk orang diluar sana yang suka PUISI, dan untuk mengembangkan karya-karya “mungkin” terbaikku selamat menikmati Wassalam

Ayat Al-Qur’an

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Yang Lagi Ngintip BLOG q

Kategori

Blog Stats

  • 51,511 pengunjung

Kabupaten Sidoarjo

sidoarjo1

Ayo Berbagi

&quotIndonesians’

movie1tu2 smp-banner

Ngenet?? Ya Speedy Aja Kalee

Speedy

Speedy


%d blogger menyukai ini: